Tahun 2020 menjadi tahun yang cukup sulit untuk dijalani. Tidak hanya bagi Indonesia, namun seluruh dunia juga merasakannya. Pandemi yang belum juga berakhir membuat kita harus tetap waspada dan menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah, guna menekan semakin tingginya angka kasus covied-19 di Indonesia. Sedikit bisa bernafas lega, saat pemerintah mengumumkan bahwa vaksin telah tersedia dan siap untuk didistribusikan.
Salah satu ‘kekuatan’ yang dimiliki Indonesia dalam mengahadapi tahun yang berat ini adalah kemampuan setiap individu untuk bertahan, kreatif dalam berinovasi guna menjaga peluang agar bisa tetap tegak berdiri di tengah efek domino yang terjadi akibat pandemi ini. Disinilah dituntut sikap dengan daya juang tinggi dari setiap individu untuk bisa struggle dan kreatif agar bisa melewati masa sulit ini dengan baik.
Inilah kiranya yang melatar belakangi tema peringatan Hari Ibu ke-92 tahun ini, yaitu ‘Perempuan Berdaya, Indonesia Maju’. Indonesia membutuhkan manusia-manusia berdaya juang tinggi yang memiliki growth mindset untuk bisa melewati pandemi ini, tak terkecuali para perempuan Indonesia. Benar kiranya bahwa perempuan adalah tiang negara. Sebab di pundak merekalah salah satu kekuatan besar bangsa ini berada.
Sejarah bangsa mencatat, kontribusi perempuan nyata adanya dalam proses panjang perjalanan menuju kemerdekaan, hingga berada di titik ini di tahun ke-75 Indonesia merdeka. Kontribusi perempuan-perempuan Indonesia dalam skala besar maupun kecil–melalui lembaga keluarga–menjadi sebuah kekuatan besar untuk melewati setiap problematika bangsa. Di masa pandemi ini contohnya. Saat sektor perekonomian terdampak cukup serius, seorang perempuan dituntut untuk memiliki ‘kemampuan bertahan’ melalui daya kreatif yang tinggi sebagai modal awal untuk menemukan solusi. Sebab bagaimanapun, setiap persoalan harus dihadapi, bukan untuk dihindari.
Semangat emansipasi yang diusung R.A. Kartini menjadi modal kuat agar perempuan-perempuan Indonesia berani mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat membawa Indonesia ke arah yang lebih maju. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara.
Salah satu ‘kunci’ untuk dapat bertahan di tengah gelombang persoalan yang semakin komplek saat ini adalah dimilikinya sifat growth mindset. Dalam ilmu psikologi, sifat ini berarti kemampuan untuk selalu berpikir positif dan mampu berdamai dengan kekurangan diri. Orang dengan mindset seperti ini cenderung mampu berdamai dan menerima kekurangan diri. Ia menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Sehingga segala yang melekat dalam diri, baik kelebihan maupun kekurangan, ia sinergikan agar melahirkan sebuah tindakan positif yang akan membawanya ke arah lebih baik. Growth mindset yang matang akan menjadi titik awal untuk seseorang ‘naik kelas’ di kehidupan selanjutnya. Kemampuan berdamai dengan diri sendiri (melihat kekurangan sebagai salah satu anugerah Allah SWT) akan membuat seseorang melihat persoalan sebagai sesuatu yang harus dihadapi dan dicari solusinya, bukan untuk dihindari. Di sinilah rasa optimis dan jiwa positif akan tercipta. Sifat ini harus dimiliki oleh setiap individu di dalam masyarakat, khususnya kaum perempuan dalam kiprahnya di ranah publik maupun domestik.
Di ranah domestik, seorang ibu akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sehingga di sanalah proses sosialisasi nilai-nilai positif berlangsung. Hal tersebut akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk pada saatnya nanti memegang tampuk kepemimpinan di negeri ini. Nilai-nilai kebaikan yang seorang ibu ajarkan kepada anaknya saat ini, seperti menanam benih yang akan dipanen di kelak kemudian hari. Pada saatnya nanti, hanya kebaikan juga yang akan dituai.
Dengan selalu berpikiran positif, seseorang akan menyalurkan energi positif pula bagi orang-orang di sekitarnya. Sehingga yang terjadi kemudian adalah akan tercipta lingkungan yang positif atau lazim dikenal dengan istilah positive vibes. Sebaliknya etos fixed mindset adalah pola pikir dimana seseorang memandang setiap persoalan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tipikal orang seperti ini cenderung menghindari masalah dan mudah menyerah. Dalam benaknya hanya ada pikiran negatif, tidak mau berkembang dan selalu meratapi kekurangan diri serta cepat menyerah dengan keadaan. Sifat seperti ini harus dihindari oleh setiap individu agar tidak tercipta negative vibes.
Perempuan dengan daya juang tinggi dan memiliki growth mindset yang mumpuni mutlak diperlukan bangsa ini di tengah kondisi yang tak menentu akibat pandemi. Dalam www.tribunews.com, disebutkan bahwa semangat perjuangan perempuan Indonesia ini, seperti tercermin dalam lambang Hari Ibu, yaitu sekuntum bunga melati dan kuntumnya yang menggambarkan:
- Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak
- Kekuatan dan kesucian seorang ibu
- Kesadaran perempuan untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa dalam pembangunan nusantara.
Semoga dengan semangat juang yang tinggi, perempuan-perempuan Indonesia dapat menjadi garda terdepan di negeri ini. Mengambil peran semaksimal mungkin dengan memberikan versi terbaik dari setiap mereka untuk membawa Indonesia lebih maju, bermartabat dan selalu bertumbuh ke arah yang lebih baik. Aamiin .
Banjarnegara, 21 Desember 2020
-Qonata Perdanasari-
