Selaksa Cinta Untuk Anak Indonesia: Tetap Berseri di Tengah Pandemi

ATTACK

Panik…

Kalut…

Takut…

 

Tak mengapa

Semua merasakannya

Tetapi yakinlah

Semua pasti berlalu

 

Sedikit lagi

Tuhan mau kita lebih berusaha

Lebih banyak meminta

Lebih banyak bersabar

Hingga ini semua akan sirna

Menjadi sebuah cerita penuh makna

 

Percayalah, segalanya tidak akan sia-sia

Pasti ada hikmah besar di balik ini semua

Percayalah, hanya cinta yang selalu DIA berikan kepada kita

Setiap hamba yang tak pernah lelah meminta

(QPS,29032020)

 

Sejarah mencatat, sebelum terjadi pandemi Corona yang diawali dengan ditemukannya kasus ini pertama kali pada akhir 2019 lalu hingga akhirnya WHO menetapkannya sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020, setidaknya ada enam pandemi terburuk yang pernah terjadi di dunia, yaitu:

  1. The Great Plague of London

Wabah penyakit Pes yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan ditularkan melalui kutu. Terjadi pada tahun 1666.

  1. Flu Spanyol

Disebabkan oleh virus H1N1 yang berasal dari burung. Terjadi pada tahun 1918.

  1. Flu Asia

Disebabkan oleh virus jenis H2N2 dan terdeteksi pertama pada Februari 1957 di Singapura.

  1. Pandemi Flu 1968 atau Flu Hongkong

Disebabkan oleh virus influenza H3N2. Masa pandemi ini diperkirakan menewaskan sekitar satu juta orang di seluruh dunia.

  1. Pandemi Flu 2009

Pertama kali terdeteksi di AS dan lebih dikenal dengan istilah Flu Babi. 

  1. HIV/ AIDS

Pertama kali ditemukan pada tahun 1980. Namun embrio virus ini disinyalir sudah ada sejak tahun 1920, dan diduga berkembang dari virus simpanse yang berasal dari Afrika. HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Selanjutnya virus ini akan melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. 

(sumber: kompas.com/12 Maret 2020)

      Sejak muncul kasus Corona pertama di China pada November 2019, hingga kini telah ditemukan 14.403.633 kasus di seluruh dunia. Dengan angka kematian sebanyak 604.083 dan jumlah pasien yang sembuh sebanyak 8.585.744 (kompas.com melansir dari worldmeters/19 Juli 2020). Masih dari sumber yang sama, disebutkan bahwa untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus virus Corona tertinggi dengan 84.882 kasus. Sedangkan di Asia, Indonesia berada di urutan 9. Tidak mengherankan jika Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menetapkan bahwa virus Corona sebagai pandemi, sebab penyebarannya yang sangat cepat dan meluas hingga melintas batas internasional dengan proses penularan yang terus menunjukkan grafik naik.

      Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia di bawah Tiongkok, India dan Amerika menjadi ‘lahan subur’ bagi penyebaran virus Corona ini. Sebab dengan tingkat kepadatan yang tinggi memungkinkan terjadinya penyebaran virus dari satu orang ke orang yang lain secara cepat. Efek domino dari pandemi ini sungguh luar biasa. Semua sektor turut merasakan dampaknya.

      Upaya pemerintah menekan angka penularan Covid-19 dengan menutup sementara sekolah adalah sebuah keputusan yang tepat. Selain usia lanjut dan orang-orang yang memiliki penyakit bawaan, kelompok usia selanjutnya yang rentan tertular virus ini adalah anak-anak. Tetap berada di rumah akan membuat anak-anak lebih terlindungi, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.

      Hal tersebut sesuai dengan tema yang diangkat pada peringatan Hari Anak Nasional Tahun ini yaitu “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Menutup sementara sekolah merupakan salah satu upaya menekan angka penularan Covid-19 dari kelompok usia ini. Tetap berada di rumah dan  di tengah keluarga akan memberikan rasa nyaman pada anak. Sehingga tidak hanya fisik yang terlindungi tetapi juga psikis yang tetap terjaga dengan baik. Di tengah arus informasi tentang Covid-19 yang sangat masif, rentan membuat siapa saja yang mendengarnya akan mengalami kepanikan, bahkan bisa membuat stres. Untuk itulah, tidak hanya kesehatan fisik yang perlu dijaga tetapi juga kesehatan mental. Termasuk juga pada anak-anak.

      Belum lama ini ramai diperbincangkan tentang keinginan sebagian orang tua agar pemerintah segera membuka kembali sekolah karena anak-anak mulai mengalami kebosanan. Bahkan secara ekstrim, ada yang menyebut anak mereka mulai mengalami stres. Satu hal yang perlu diketahui, bahwa bukan persoalan mudah untuk kembali membuka sekolah saat ini. Taruhannya adalah kesehatan anak-anak kita. Untuk itu, dibutuhkan sinergi antara pihak sekolah dan orang tua di rumah agar anak-anak tetap menikmati proses belajar dari rumah tanpa rasa bosan, mengingat tahun ajaran baru sudah dimulai.  

      Mohammad Fauzil Adhim dalam Poitive Parenting menyebutkan bahwa: “Berbagai penelitian tentang pembelajaran telah mengajarkan kepada kita bahwa semangat yang menyala-nyala, budaya belajar (learning culture), tujuan yang kuat, dan proses belajar yang menyenangkan jauh lebih berharga daripada seberapa banyak yang mereka pelajari. Dalam keadaan bersemangat, menghafal seratus kalimat bukan hal yang berat. Tetapi dalam keadaan tertekan, dua puluh kalimat saja bisa membuat tenggorokan tersendat-sendat mengucapkannya (2015:234).

      Pandemi ini boleh saja merenggut kebebasan aktivitas anak-anak di luar rumah untuk sementara waktu, tetapi jangan sampai keceriaan dan kebahagiaan mereka dalam melewati masa anak-anak terenggut juga. Saat kebijakan school from home (SFH) ditetapkan, otomatis ada tanggung jawab yang harus mereka kerjakan. Namun, kenyamanan mereka dalam menjalani aktivitas baru tersebut tetap harus diutamakan. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan, tidak ada keterpaksaan. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua saat mendapingi anak-anak di tumah selama masa pandemi ini:

1.Sharing is Caring

Ajak anak mengobrol tentang alasan mengapa mereka harus lebih sering  berada di rumah. Bahkan sekolah pun harus dari rumah. Ceritakan tentang Corona, tentang protokol kesehatan, tentang penggunaan masker, kebiasaan cuci tangan dan lain sebagainya. Buat mereka mengerti, bukan dengan menakut-nakuti. Semua hal baik yang rutin dilakukan akan menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan pula di waktu yang akan datang. Bahkan ketika pandemi ini berakhir. 

2. Learning With Fun

Saat tiba waktunya mengerjakan tugas dari sekolah, tanamkan kepada anak bahwa aktivitas itu adalah aktivitas yang menyenangkan. Nikmati prosesnya. Belajar hal-hal yang baru dengan cara yang baru (SFH) akan menambah pengetahuan dan pengalaman. Jika sesekali anak keliru mengerjakan, tidak perlu disikapi dengan berlebihan. Turunkan standart, tanpa mengurangi tanggung jawab yang harus anak lakukan terkait SFH.

3. Mens Sana in Corpore Sano

Ajak anak untuk rutin melakukan olah raga ringan di halaman rumah. Sebab di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Bukankah itu yang kita harapkan? Memiliki gernerasi penerus dengan jiwa dan raga yang sehat.

4. Healthy Food, Healthy Soul

Menjaga asupan gizi anak-anak menjadi hal yang mutlak dilakukan, khususnya di era pandemi ini. Selain untuk kesehatan fisik, pemenuhan gizi seimbang juga dapat menjaga agar produksi hormon serotonin tetap terjaga. Fungsi hormon ini adalah untuk mengatur perasaan cemas dan bahagia. Tubuh dapat tetap memproduksi hormon ini jika asupan gizinya terpenuhi. Sebaliknya, saat karbohidrat, protein, vitamin dan mineral tidak terpenuhi, maka produksi hormon serotonin berkurang. Jika itu terjadi, maka cemas, panik dan rasa tidak nyaman lain bisa melanda. Pada anak-anak, bisa menyebabkan terjadinya tantrum. Di masa pandemi seperti sekarang ini, stres tidak hanya dapat dialami oleh orang dewasa. Anak-anak pun dapat mengalaminya. Dengan rutinitas yang cenderung monoton dan ruang gerak yang sangat terbatas dapat memicu siapa saja mengalami stres. Memastikan asupan dengan gizi seimbang merupakan salah satu cara agar kesehatan jiwa tetap terpelihara.

5. Allah is The Greatest

Jadikan era pandemi ini sebagai sebuah “pengalaman spiritual” bersama anak-anak kita. Ajak mereka untuk lebih lama bersujud, untuk lebih sering menengadahkan kedua tangan, untuk lebih menyadari bahwa semua ini terjadi atas izin-Nya. Maka atas izin-Nya pula ini semua akan berakhir pada saatnya nanti. Kita, hanya harus lebih keras lagi berusaha. Lebih banyak lagi berdoa, memaksimalkan ikhtiar kita. Agar kita semakin menyadari kehambaan diri.

 

      Melindungi anak-anak dari bahaya pandemi menjadi salah satu usaha menekan angka penyebaran Covid-19 sekaligus upaya agar Indonesia yang sehat dan kuat tetap kokoh berdiri. Sebab di pundak mereka, di pundak anak-anak ini, masa depan Indonesia berada. Saat ini, yang harus dilakukan adalah memastikan anak-anak dapat tumbuh dengan baik. Melewati masa anak-anak mereka dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan di tengah pandemi yang masih terus bergejolak. Kelak, semoga mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat, tangguh, penuh percaya diri dan memiliki nasionalisme yang tinggi terhadap Indonesia tercinta. 

 

Banjarnegara, 1 Dzulhijjah 1441/ 22 Juli 2020

Oleh: Qonata Perdanasari